Rabu, 20 April 2011

Memaknai Tahun Baru

                                        Oleh: Khairul Umam*

Saat ini kita telah memasuki  tahun 2011 Masehi.  Bulan yang bersejarah bagi orag Kristen, yaitu bulan januari.  Bulan  yang terkait dengan lahirnya yesus kristus atau Isa al-masih. Al-masih sendiri diambil dari kata masehi. Sehingga agama Kristen sering disebut agama masehi. Masa sebelum yesus lahirpun disebut tahun sebelum masehi. Tahun baru masehi ini sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga dunia.
            Sudah menjadi tradisi yang cukup kental bagi semua warga dunia, bahwa pergantian tahun baru masehi identik denga perayaan yang berlebih-lebihan. Misalnya dengan hura-hura, bergadang semalaman, tiup terompet, pesta kembang api, dan sebagainya. Semua itu tidak serta-merta didapat atau dilakuka secara cuma-cuma. Tapi dengan mengeluarkan biaya dan tenaga yang cukup banyak. Mereka rela bekorban demi tercapainya sebuah kepuasan nafsu yang datangnya dari syaitan yang tidak diridhoi Allah, yang pada akhirnya kerugian yang didapatkan.
            Sekedar contoh, pada malam menjelang pergantian tahun baru rata-rata pemuda-pemudi bebondong-bondong pergi ke tempat hiburan,  klub malam, nonton bersama di bioskop, berpestaria dan sebagainya. Nah, perbuatan seperti ini lekat dengan hal-hal yang sifatnya hura-hura, sebuah prilaku yang bisa jatuh pada kriteria  sia-sia. Karena tidak dapat mendatangkan kemanfaatan. Tentu saja hura-hura seperti ini dekat dengan kemaksiatan. Selain itu, kerap sekali membutuhkn biaya yang tidak sedikit. Bagi seorang  muslim, aktivitas seperti ini tidak ada manfaatnya. Karena tergolong perbuatan yang sia-sia dan termasuk pemborosan.


            Namun realita  sekarang,  pemuda-pemudi tidak mau berpikir mendalam tentang hal itu.  Mereka berdalih tidak mau membiarkan tahun kemarin berlalu begitu saja tanpa adanya unsur kebahagiaan yang didapat. Di sanping itu juga, mereka ingin memberikan sambutan yang hangat  dengan datangnya tahun baru.
            Fenomena  seperti ini sudah menjdi tradisi umum. Tidak pandang bulu, baik  laki-laki, perempuan, tua, dan muda. Semua terlibat dalam perilaku yang tidak bermanfaat ini.
            Kita sebagai muslim, tidak boleh memperingatinya.  Karena yang pertama, merayakan tahun baru masehi dengan berlebih-lebihan itu tidak ada manfaatnya. Dalam  hadits hasan yang diriwayatkan oleh tirmidzi dan yang lainnya, dijelaskan bahwa  Rasulullah SAW bersabda,”  di antara (ciri) sempurnanya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya.” Termasuk  di sini adalah merayakan pergantian tahun.
            Sedangkan yang kedua adalah, karena perayaan tahun baru ini termasuk rangkaian kegiatan hari raya orang-orang  kafir yang sifatnya glamour, foya-foya,  dan melampaui batas. Hal ini  hanya pantas dilakukan oeh orang-orang berpaham materialisme. Adapun Islam tidak pernah mengajarkan prilaku seperti ini.

 Semangat baru
            Maka dari itu, di tahun baru ini tidak usah kita merayakannya. Jadikan tahun baru sebagai ajang perbaikan diri. Cukup bagi kita memperbaharui lembaran-lembaran suram kehidupan kita, menuju lembaran-lembarn kehidupan yang lebih baik. Jangan biarkan tahun 2010 berlalu begitu saja tanpa adanya perubahan yang positif. Justru dengan datangnya tahu baru ini, segala aspek dalam kehidupan kita harus berubah juga. Dengan adanya tahun baru, mestinya  semangat juga baru. Belajar semakin giat dan  amal sholeh juga  kita  tingkatkan. Kita raih masa depan yang kita harapkan. Kita tinggalkan masa lalu yang telah berlalu. Biarlah ia menjadi kenangan. Lakukanlah apa yang bisa kita lakukan sekarang, karena waktu kita adalah  di saat kita berada pada waktu itu. Wallahua’lam bisshowab.



*) Penulis merupakan anggota Asosiasi Penulis Islam (API) STAIL


Baca Selengkapnya......

Kondisi Tanah Air Sebagai Negara Muslim

Oleh: El_yahya*

Jikalau kita tanya dalam lubuk hati kita yang terdalam apa yang sehari-hari kita konsumsi oleh mata kita, oleh logika kita dan oleh hati kita? tentang keadaan lingkungan sekitar yang setiap harinya pula tidak sepi dari pemberitaan media cetak maupun media elektronik. Dengan segala kekacauan dan kekisruhan yang terjadi di dalamnya, kemerosotan akhlak yang drastis dan rapuhnya akidah menjadi pemicu dari apa yang terjadi. 

Kitapun bisa cermati pergaulan bebas yang bergejolak di tengah-tengah generasi muda kita yang dari hari ke hari semakin meresahkan dan menutup harapan akan kemajuan bangsa.

 Agama kita yang menjadi mayoritas di tanah sendiri hanya menjadi bulan-bulanan dan menjadi sasaran yang tak bertaji bagi predator asing yang bernafsu meraup materi secara membabi buta karena lemahnya aqidah masyarakat kita.



Berdasarkan realitas inilah yang menjadi latar belakang kita membutuhkan generasi lain yang mampu manjadi "agent of change", mengangkat derajat masyarakat yang bertauhid, mampu mengurus dunia dan memelihara akhirat.

Untuk hal ini kita bisa bercermin bagaimana kinerja Rasulullah SAW mengubah tatanan hidup masyarakat jahiliyah menjadi kader-kader mujahid islam yang merekapun mampu mempengaruhi masyarakat lain sesuai dengan apa yang diajarkan Rasul. Sehingga dengan apa yang mereka ciptakan adalah gambaran hidupnya sebuah peradaban islam.

Lalu, bagaimana dengan usaha kita? Kita pun bisa, menerapkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran apa saja yang yang Rasul dan sahabatnya ajarkan. Kita serukan ajakan dakwah islamiyah melalui berbagai media, karena sebagaimana kita ketahui di zaman yang tekhnologinya sudah maju ini meskipun banyak media yang disalahgunakan, namun kita mampu mengandalkannya sebagai senjata pelengkap kita untuk berdakwah. Kita lawan apa yang namanya Liberalisme, sekularisme, Kapitalisme dan isme-isme lainnya yang melecehkan islam dan masyarakat kita.

Sehingga apa yang kita harapkan dengan tegaknya peradaban islam dapat tercapai. Amin.



*) Penulis adalah Mahasiswa STAIL

Baca Selengkapnya......

Jeritan Rakyat Indonesia


                                                  Oleh: Miftahuddin*
Sungguh menyedihkan, masih ada masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal mereka  hidup di negeri yang kaya raya, Indonesia. Dibawa ke mana kekayaan negeri ini?
   
Memrihatinkan
Sungguh memrihatinkan, di saat harga bahan pokok seperti minyak, beras, gula, telur, cabai dan bawang  sudah meroket harganya dan sangat sulit untuk di jangkau, pemerintah justru memberikan “hadiah” kepada masyarakat berupa pembatasan subsidi BBM, kenaikan tarif dasar listrik, privatisasi BUMN, dan hadiah lainnya  yang menyakitkan hati.
Tidak hanya itu, dikabarkan juga harga bahan pokok lainnya kini melonjak naik. Sebutlah semisal lombok, minyak, dan gula. Selain itu,  pemerintah juga menarik pajak dari warteg-warteg dan masyarakat miskin. Wajarlah jika masih ada penduduk negeri ini yang hidup dalam keadaan memprihatinkan.
 Jika kita menelusuri apa saja yang menyebabkan kemiskinan di negri ini semakin meningkat, kebanyakan dari kita akan berpendapat bahwa penyebabnya adalah  pimimpin kita yang tidak amanah dalam menjal ankan kewajibannya. Mereka  tidak peduli keadaan rakyat yang dilanda kelaparan. Mereka lebih sibuk dengan diri mereka sendiri. Sekedar refleksi bagi kita, dikabarkan bahwa pemerintah telah menganggarkan dana APBN 2011 untuk pembangunan gedung baru DPR sebesar Rp 800 miliar.(Republika 08/01/11)

Melalui fakta di atas menunjukkan bahwa para pemimpin negeri ini lebih serius dalam memfasilitasi para pejabat daripada memperdulikan keadaan masyarakat yang hidup dalam keadaan miskin. Padahal,  keadaan masyarakat miskin semakin sulit semenjak  harga bahan pokok  melonjak naik.
Jika para pemimpin negeri ini sama sekali tidak memperdulikan keadaan masyarakatnya dan senantiasa menyalahgunakan uang negeri ini, maka selamanya rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan tidak akan pernah merasakan hidup makmur. Walaupun,  mereka hidup di dalam negeri yang kekayaanya melimpah ruah. 
Tidak Serius 
Pemerintah terkesan tidak serius mengatasi masalah ini. Buktinya, saat ini di Indonesia masih ada sekitar31 juta masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. (Republika 10/01/11). Padahal, makroeknomi Indonesia  mengalami peningkatan yang sangat membanggakan pada beberapa hari terakhir. Pemerintah belum serius dalam melaksanakan amanat di bidang kesejahteraan. Pemerintah tidak menjadikan pasal 33 UUD 1945 sebagai acuan untuk mengelola sumber daya alam dalam mensejahterahkan rakyat.(Republka 11/01/11)
 Akhirnya, jika saja para pemeintah mengalokasikan sebagian daripada penghasilan makroekonomi untuk disumbangkan kepada seluruh rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan,  niscaya tidak akan ada lagi masyarakat yang mengkonsumsi tiwul sehingga menyebabkan jatuhya korban jiwa, seperti yang di alami salah satu keluarga yang tinggal di jawa tengah tepatnya di jepara. Tidak akan ada lagi masyarakat yang miskin, jika para pemimpin negeri ini benar-benar amanah dalam menjalankan amanahnya. Wallahua’lam bisshowab.
*) Penulis adalah Mahasiswa STAIL

Baca Selengkapnya......

Jazirah Arab, Negeri yang Terpilih


                                         Oleh: A. Nafi’ adh-Dhukha*

Kondisi pada masa pra Islam dunia dikuasai oleh negara adidaya Persia dan Romawi yang menjadi tetangga Arab, tempat lahirnya Islam.
Persia adalah ladang subur berbagai khayalan (khurafat), keagamaan dan filosofis yang saling bertentangan. Diantaranya adalah Zoroaster yang dianut oleh kaum penguasa. Diantara falsafahnya adalah mengutamakan perkawinan seseorang dengan ibunya, anak perempuannya, dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan akhlak yang beraneka ragam.
Sementara itu, Romawi sedang dikuasi semangat kolonialisme. Negeri yang terlibat pertentangan agama, antara Romawi di satu pihak dan Nasrani di pihak lain. Negeri ini mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonialnya dalam melakukan pertualangan naif demi mengembangkan agama Kristen dan mempermainkannya sesuai keinginan hawa nafsunya yang serakah. Negara  ini tak kalah bejatnya dengan Persia. Kehidupan nista, kebejatan moral, dan pemerasan ekonomi telah menyebar keseluruh penjuru negeri, akibat dari melimpahnya penghasilan dan menumpuknya pajak.

Kondisi manusia di dunia pada masa tersebut sedang mengalami kemerosotan, keguncangan dan kenestapaan yang disebabkan oleh peradaban dan kebudayaan yang didasarkan pada nilai-nilai materalistik, tanpa adanya niai-nilai moral yang mengarahkan peradaban dan kebudayaan tersebut ke jalan yang benar.Double Bracket: Karakteristik mereka seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain. Masih menampakkan fitrah kemanusiaan dengan kecenderungan yang sehat dan kuat serta cenderung pada kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong, dermawan, rasa harga diri, dan kesucian.
Di satu pihak, di jazirah Arab, bangsa Arab hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan dari peradaban Persia yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat keserbabolehan dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama. Mereka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi yang medorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga. Mereka tidak memiliki kemegahan filosofis dan dialektika Yunani yang menjerat mereka menjadi mangsa mitos dan khurafat. Karakteristik mereka seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain. Masih menampakkan fitrah kemanusiaan dengan kecenderungan yang sehat dan kuat serta cenderung pada kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong, dermawan, rasa harga diri, dan kesucian.
Kondisi Geografis, Ekonomi & Politik
Jazirah Arab memiliki peranan yang sangat besar karena letak geografisnya. Jazirah Arab terletak di benua yang sudah dikenal semenjak dahulu kala, yang mempertautkan antara daratan dan lautan. Sebelah barat laut merupakan pintu masuk ke benua Afrika, sebelah timur laut merupakan kunci untuk masuk ke Benua Eropa, dan sebelah timur merupakan pintu masuk bagi bangsa-bangsa non-Arab, timur tengah dan timur dekat, terus membentang ke India dan Cina. Setiap benua mempertemukan lautnya dengan Jazirah Arab dan setiap kapal laut berlayar tentu akan bersandar di ujungnya. Dengan kondisi seperti ini, sebelah utara dan selatan dari Jazirah Arab menjadi tempat berlabuh berbagai bangsa untuk saling tukar menukar perniagaan, seni, dan juga budaya.
Sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, Jazirah Arab hanya dikelilingi gunung dan pasir di segala sudutnya. Karena kondisi inilah yang membuat Jazirah Arab seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak memperkenankan bangsa asing untuk menjajah, mencaplok, atau menguasai bangsa Arab. Oleh karena itu, dapat kita lihat penduduk Jazirah Arab yang hidup merdeka dan bebas dari segala urusan semenjak zaman dahulu. Sekalipun begitu mereka tetap hidup berdampingan dengan dua imperium besar saat itu, yang serangannya tak mungkin dihalangi anadaikata tidak ada benteng pertahanan yang kokoh seperti itu.
Sesuai dengan tanah Arab yang sebagian besar terdiri dari padang sahara, ekonomi mereka yang terpenting adalah perdagangan. Di musim dingin mereka mengirim kafilah dagang ke Yaman, sedangkan di musim panas kafilah dagang mereka menuju ke Syiria. Untuk itu, dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka harus menguasai jalur–jalur perdangan dengan memegang kendali keamanan dan perdamaian. Kondisi yang aman seperti ini tidak terwujud di jazirah Arab kecuali pada bulan–bulan suci. Oleh karenanya pada saat demikianlah dibuka kegiatan dagang di pasar–pasar Arab yang terkenal, seperti Ukazh, Dzil, Mazaj, Majinnah, dan lain- lain.
Sementara itu kondisi politik masa Arab pra Islam di Jazirah Arab merupakan garis menurun dan merendah. Manusia dibedakan antara tuan dan budak, rakyat dan pemerintah. Para tuan berhak atas semua harta rampasan dan kekayaan, dan hamba diwajibkan membayar denda dan pajak. Kekuasaan yang berlaku saat itu adalah sistem diktator. Sedang kondisi kabilah-kabilah di jazirah Arab tidak pernah rukun. Sehingga mereka sering diwarnai oleh permusuhan antar kabilah, perselisihan rasial dan agama.
Arab, tempat Millah Ibrahim 
Bangsa arab adalah anak-anak Isma’il a.s. karena itu, mereka mewarisi millah dan minhaj yang pernah dibawa oleh bapak mereka. Milllah dan minhaj yang menyerukan tauhidullah, beribadah kepada-Nya, mematuhi hukum-hukum-Nya, mengagungkan tempat-tempat suci-Nya, khususnya Baitul Haram, menghormati syi’ar-syi’ar-Nya dan mempertahankannya.
Setelah beberapa kurun waktu, mereka mulai mencampur adukkan kebenaran yang telah diwariskan itu dengan kebatilan yang menyusup kepada mereka. Seperti semua umat dan bangsa, apabila telah dikuasai kebodohan dan dimasuki tukang-tukang sihir dan ahli kebatilan, masuklah kemusyrikan kepada mereka. Mereka kembali menyembah berhala-berhala. Sisa-sisa penganut agama Ibrahim sangat langka dan tidak kedengaran lagi suaranya. Orang Arab musyrikin menyembah Tuhan-tuhan yang mereka yakini sebagai perantara yang dapat memberikan syafa’at untuk mereka kepada Allah. Selain menyembah berhala, di kalangan bangsa Arab ada pula yang menyembah agama Masehi (Nasrani), agama ini dipeluk oleh penduduk Yaman, Najran, dan Syam. Disamping itu juga agama Yahudi yang dipeluk oleh penduduk Yahudi imigran di Yaman dan Madinah, serta agama Majusi (Mazdaisme), yaitu agama orang-orang Persia.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa pada dasarnya secara geografis, jazirah Arab sangat kondusif untuk mengemban tugas dakwah karena terletak di bagian tengah-tengah umat-umat yang ada di sekitarnya pada waktu itu. Demikian juga sebagaimana kita ketahui bahwa Allah menjadikan Baitul Haram sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang ama serta merupakan rumah yang pertama kali dibangun bagi manusia untuk beribadah dan menegakkan syiar-syiar agama Allah. Maka merupakan kelaziman dan kesempurnaan jika lembah yang diberkahi ini juga menjadi tempat lahirnya Islam yang notabene adalah millah Ibrahim dan menjadi tempat diutus dan lahirnya pamungkas para Nabi.
Wallahu a’lam……..

*) Penulis adalah Mahasiswa STAIL

Baca Selengkapnya......

Indonesia dan Malaysia: Perlukah Berperang?


                                      Oleh: Luqman al-Hakim*

       Betapa gampangnya sebagian masyarakat Indonesia dan Malaysia saling adu mulut serta aksi-aksi provokatif yang berindikasi untuk saling berperang, saling menumpahkan darah, dan saling memusnahkan.  Di Indonesia, misalnya, ada komentar-komentar di status Facebook, Yahoo Messangger maupun media jaringan sosial lain, yang bernada perlawanan terhadap Malaysia. Berita di TV juga menayangkan di beberapa kota terjadi demonstrasi yang mengecam Malaysia. Bahkan ada orang yang  menyatakan siap berperang menghadapi Malaysia. Hal yang terbaru adalah para hacker dari Indonesia menyerang situs-situs Malaysia.        
          Tentunya hal ini membuat kedua negara "panas". Masih segar dalam ingatan kita kata kunci "ambalat" atau slogan "ganyang Malaysia”. Tapi alhamdulillah, kedua negara tidak jadi berperang walaupun senjata-senjata berat telah dikirim ke perbatasan.  


        Nah, beberapa bulan terakhir ternyata peristiwa yang membuat kedua pemerintahan tegang tersebut mulai tampak akan terulang lagi. Hanya saja, pemerintah tidak merespon secara serius masalah tersebut. Sebut saja adanya demo yang menentang sikap pemerintah karena terkesan tidak serius dalam menangani masalah ini. Pihak DPR (pemerintah), malah memberikan warning agar masyarakat Indonesia tidak terprovokasi.   
       Sikap pemerintah Indonesia untuk tidak menyatakan perang terhadap Malaysia pantas kita acungi jempol. Coba kita renungkan, kita-masyarakat Indonesia-sebenarnya bersaudara dengan mereka (masyarakat malaysia). Dari sudut pandang agama, misalnya, sebagian besar  masyarakat kedua negara beragama sama, yaitu Islam. Dalam Islam, orang-orang beriman (orang-orang Islam) adalah bersaudara. "al-muslimu akhul muslim (seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya )", sabda Rasul. Allah juga berfirman dalam surat al-hujurot , "Innamal mu'minuuna ikhwah". yang artinya ,"sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara". Selain itu,  masyarakat Indonesia dan Malaysia memiliki rumpun yang sama, yaitu bangsa Melayu. Terbukti,  bahasa yang digunakan oleh kedua negara memiliki akar yang sama, yaitu bahasa melayu. Konon, dulu ketika masa kerajaan, antara sebagian wilayah Indonesia dan Malaysia berada dalam naungan satu kerajaan    
         Jadi, kalau ada aksi-aksi provokatif yang berending pada peperangan, sebaiknya dihentikan saja. Dan untuk pemerintah, tetaplah bertekad untuk menjaga perdamaian serta tidak gampang terprovokasi oleh pihak ketiga. Semoga ke depannya, negara Indonesia dan Malaysia berada di garis terdepan dalam mengusung perdamaian antar negara. Amiin yaa Robbal ‘alamiin.

   
* ) Penulis adalah mahasiswa STAIL

Baca Selengkapnya......

Indonesia dan Bayang-bayang AIDS

Oleh: Miftahuddin*

     Perkembangan dan perubahan suatu negara tidak lepas dari peran para pemuda. Bagaimana jadinya jika pemuda yang diharapkan bisa melakukan perubahan dan menjadi ujung tombak kemajuan, malah rusak dan memiliki moral yang jelek? 

Mengkhawatirkan!
Menurut data PBB, saat ini setidaknya 33,3 juta orang mengidap penyakit HIV/AIDS. Terbesar pertama adalah di Afrika yaitu 1.850 jiwa. Sedangkan kedua adalah Asia selatan dan tenggara ( termasuk Indonesia ) dengan jumlah 270 jiwa.
Di Jawa Barat, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dari tahun 1989 sampai 2010, jumlah kasus AIDS pada anak balita sebanyak 102 kasus, di tambah kasus pada anak-anak yang berusia 5-14 dan 15-19 tahun, yakni 238 dari 5382 jumlah penderita AIDS secara keseluruhan.( Republika, 8 Des ‘10 ).


Tingginya angka penderita HIV/AIDS ini tentunya sangat terkait erat dengan pola pergaulan bebas yang saat ini melanda remaja. Dari data di atas, ternyata pergaulan bebas tidak hanya ditemukan di daerah perkotaan, tetapi juga terdapat di pedesaan.
Penyakit HIV/AIDS, free sex, penggunaan obat terlarang dan tindak criminal yang dilakukan oleh remaja, hanyalah sedikit bukti betapa pergaulan bebas telah merusak fisik, karakter dan mentalitas generasi muda.
Dalam wawancara dengan Nafisa Mboi, Sekjen Komite Penanggulangan AIDS Nasional dengan Republika, mengatakan bahwa dalam laporan BKKBN di Jakarta tercatat sedikitnya 51 persen remaja telah melakukan hubungan seks di luar nikah.( Republika 1 desember 2010). Tidak jarang kita mendengar melalui media massa, seorang siswi SMA-bahkan SMP- hamil di luar nikah.
Data data di atas hanyalah sedikit dari kasus yang bisa tercatat / terungkap. Sementara kasus-kasus yang tidak terungkap, jumlahnya tentu jauh lebih banyak lagi. Kecenderungan ini akan terus meningkat apabila tidak ada upaya dan usaha preventif untuk mengatasinya.
Di sisi lain, pornografi dan pornoaksi terus menyerbu remaja dari segala penjuru. Tercatat dalam setahun 4 artis porno “impor” datang ke Indonesia dan bermain film. Untuk tahun ini, tiga di antaranya dari Jepang dan satu dari Amerika. Yang paling miris adalah, pemerintah sama sekali tidak bisa mencegah artis-artis tersebut datang ke Indonesia dalam rangka pembuatan film-film “panas”.
Jika saja pemerintah bertindak jauh lebih tegas terhadap permasalahan ini, maka tidak diragukan lagi Indonesia yang mayoritas muslim ini akan terhindar dari bahaya HIV/AIDS; juga akan terhindar dari degradasi moral (Insya Allah).
Betapapun rusaknya moralitas negeri ini, kita tidak perlu pesimis dan putus asa.Yakinlah, bahwa harapan itu masih ada. Untuk itu, marilah kita senantisa saling mengingatkan satu sama lain sebagaimana pesan Surat al-‘Ashr. "Adalah sebuah kekeliruan jika kita tidak saling mengingatkan. Jika itu yang terjadi,maka bersiaplah untuk selalu berteman dengan kesalahan". Wallahu a’lam.

*) Penulis adalah mahasiswa STAIL



Baca Selengkapnya......

Dolly, Pemerintah, dan Kita


Oleh: Luqman al-Hakim*

”Dolly”, sebuah lokalisasi yang berada di Putat Jaya, Surabaya, akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Tempat yang menjadi ladang maksiat ini direncanakan akan ditutup oleh pemerintah. Bisakah itu terjadi? Lalu apa peran kita sebagai masyarakat muslim?

Surga Maksiat
Sudah menjadi rahasia umum, kalau Dolly dikenal sebagai area ”halal” dalam melakukan praktek perzinahan. Di sana, Para ahli maksiat setiap malam bebas berpesta ria tanpa memiliki rasa takut. Setiap malam, sekitar 1.200 Pekerja Seks Komersial (PSK) yang rata-rata berusia sekitar 18 – 30 tahun tersebar di 400 wisma dan siap melayani para tamu berhidung belang yang datang dari berbagai tempat. Menurut penuturan salah satu pemilik wisma, 1 wisma bisa didatangi oleh ”tamu” sebanyak 50-70 orang, dan 1 PSK bisa melayani 7-10 orang (Jawa Pos, 26/10/10). Maka tidak mengherankan jika Dolly disebut-sebut sebagai lokalisasi prostitusi terbesar di Asia tenggara.
Padahal, Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam dikenal sebagai kota religius. Ada masjid-masjid yang tersebar di segala penjuru, pondok pesantren, sekolah-sekolah Islam, lembaga-lembaga Islam, dan juga terdapat wisata religius seperti masjid dan makam salah satu walisongo, Sunan Ampel.
Ironisnya, lokalisasi yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangga ini terus beroperasi selama bertahun-tahun, sejak zaman Belanda. Merujuk pada informasi dari Iwan, salah satu juru parkir di Dolly, ketika diwawancarai oleh surabayadetik.com pada 26 Oktober 2010, awalnya Dolly hanyalah perkampungan biasa yang dikelola oleh perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Tante Dolly van der mart. Barulah pada tahun 1975 atau 1976 Dolly mulai ramai dikunjungi. Jadi dalam rentang waktu selama itu, Dolly dibiarkan berkembang tanpa ada tindakan tegas.


Nahi Munkar

Kita sebagai orang Islam tentunya mengetahui bahwa kembali ke aturan Islam adalah solusi utama. Dalam agama Islam, perbuatan zina dipandang sebagai perbuatan hina dan keji. Mendekati zina aja dilarang, apalagi melakukannya. Laa taqrobuz zinaa, ”jangan dekati zina”, firman Allah dalam surat al-Isro’ayat 32. Lalu kalau ada orang yang berzina, Islam memberikan sanksi tegas. Bagi yang belum menikah (pezina gharu muhshan) dikena sanksi cambuk sebanyak 100 kali dan diasingkan selama satu tahun dari negerinya. Allah berfirman. ”Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap orang dari keduanya seratus kali dera.....(An-nur:2). Ibnu Umar juga berkata, ”Sesungguhnya Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam telah mencambuk dan mengasingkannya (pezina ghairu muhshan), sesungguhnya Abu Bakar telah mencambuk dan mengasingkannya, dan sesungguhnya Umar pun mencambuk dan mengasingkannya
(HR. Bukhari). Sementara bagi yang sudah menikah (muhshan) dikena sanksi rajam, yaitu dilempari batu sampai meninggal. ”Laki-laki yang sudah tua dan perempuan yang sudah tua jika keduanya berbuat zina, maka rajamlah keduanya sebagai suatu hukum an dari Allah” (HR. Imam Ahmad:5/183, Al-Hakim:4/360, Ad-darimi: 2/179)
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apa yang mestinya dilakukan dalam menyikapi masalah ini? Sebelum menjawab pertanyaan ini, coba kita perhatikan sabda Rasul yang diriwayatkan oleh Muslim:
”Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan hal ini adalah selemah-lemahnya Iman”
Dalam kitab Syarah Arba’in Nawawi, dijelaskan bahwa kewajiban merubah kemungkaran haruslah dengan tahapan-tahapan. Pertama, dengan tangan, dan ini hanya sanggup dilakukan oleh penguasa. Kedua, jika tidak mampu maka dengan lisan, dan ini bagi para penyeru kebajikan yang biasa menjelaskan kemungkaran-kemungkaran kepada masyarakat. Ketiga, bila orang tidak mampu merubah kemungkaran dengan tangan atau dengan lisannya, ia harus merubahnya dengan hatinya (berdoa).
Di sini menjadi jelas, bahwa kemungkaran seperti adanya praktik perzinahan di Dolly haruslah dirubah, hingga kemungkaran itu tidak lagi terjadi. Kalau perintah Rasul ini diabaikan, sementara kejahatan/kemungkaran sudah merajalela, maka siksa akan melanda semua orang, baik yang lurus maupun yang bengkok (jahat). Karena Allah akan menimpakan azab secara merata. Allah ta’ala berfirman, ”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An-nur:63)
Dalam hal ini yang mampu merubah dengan tangan adalah para penguasa, karena penguasa memiliki kekuatan yang bisa dengan mudah memberangus kemungkaran. Maka anda wahai para penguasa, orang-orang yang berada dalam pemerintahan, anda memiliki kewajiban untuk menghentikan kemungkaran. Semua kemungkaran, termasuk kemungkaran di Dolly yang telah bertahan selama berpuluh-puluh tahun.
Kalaulah kita mengacu pada dalil yang menjelaskan tentang sanksi orang yang berzina, yaitu dicambuk atau dirajam, maka penguasa di negara kita tidak bisa melaksanakannya. Karena sistem hukum yang dipakai bukanlah Syariah Islam. Seandainya diterapkan Syariah Islam di Indonesia, maka mestinya sudah dari dulu Dolly tak beroperasi. Karena memang Syariah Islam adalah sebaik-baik hukum. Hal itu dikarenakan Syariah Islam langsung dari Allah, Tuhan Yang Maha Adil. Namun walau demikian, penguasa negeri ini tetap punya kewajiban melawan kemungkaran yang ada di Dolly.
Syukurlah, akhir-akhir ini kita mendapat informasi segar, bahwa penguasa negeri ini, khususnya di Jawa Timur, mulai sadar dan menginginkan agar kemungkaran yang ada di Dolly segera usai. Sebutlah Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Sukarwo dan Saifullah Yusuf yang mewacanakan penutupan Dolly. Wacana ini bergulir dan diamini oleh beberapa kalangan, baik di pemerintahan maupun non-pemerintah.
Hanya saja memang, kemungkaran yang sudah lama bercokol di Surabaya ini tidak mudah dihentikan begitu saja. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur boleh jadi menginginkan Dolly segera ditutup. Namun Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, dalam hal ini wali kota , berpandangan Dolly tidak bisa ditutup serta merta. Harus diberlakukan secara sistematis dan bertahap.
Untuk itu, Pemkot telah mempersiapkan skenario besar. Rencana tersebut meliputi strategi pembangunan, fisik, sosial, dan ekonomi untuk menutup tempat itu. Selain itu, Pemkot juga berupaya membatasi PSK yang ada di Dolly. Upaya tersebut antara lain; memasang Closed Circuit Television (CCTV) di sepanjang lokalisasi dan akses menuju lokalisasi, mengatasi kemiskinan dengan menggelar pelatihan dan pemberian bantuan, memberi modal bagi PSK yang ingin alih profesi, mengadakan pengajian rutin, mendirikan berbagai sarana publik di lokalisasi, dan bekerjasama dengan warga sekitar (Jawa Pos, 26&27/10/2010)
Di sisi lain, Pemerintah Kota Surabaya sebenarnya punya Peraturan Daerah (Perda) yang melarang adanya bangunan prostitusi di seluruh wilayah Surabaya. Perda tersebut adalah Perda nomor 7 tahun 1999. Dalam perda itu disebutkan melarang menggunakan bangunan untuk sarana prostitusi. Atau dengan kata lain tidak diperbolehkan ada tiap bangunan yang digunakan untuk membuka praktik prostitusi. Namun ia hanya sebatas peraturan namun tak kunjung diterapkan . Hal in dibenarkan oleh Wakil Ketua DPRD Surabaya, Ahmad Suyanto. Dia menjelaskan, bahwa aturan itu masih ada dan pihaknya memang sudah lama mendesak agar menutup Dolly, karena memang ia bukan hal yang baik bagi Surabaya. Menurutnya, menutup Dolly diperlukan kesabaran dan harus diberlakukan secara sistematis, bukan dengan secara frontal melakukan penutupan. Sikap frontal yang diberlakukan akan menambah masalah serta bukan merupakan solusi terbaik bagi Surabaya (detiksurabaya.com, 25/10/2010).

Ayo Dukung!

Terlepas dari perbedaan pandangan berbagai pihak mengenai penanganan Dolly, kita sebagai masyarakat ’biasa’ harusnya mendukung upaya penutupan dolly ini. Kita juga punya kewajiban untuk membumihanguskan kemungkaran ini. Masih ingatkah kita dengan hadits di atas yang berbunyi, faillam yastatik fabilisanihi ,”jika kalian tidak mampu merubah kemungkaran dengan tangan, maka rubahlah dengan lisan ”. Setidaknya kita bisa menyampaikan kepada khalayak pentingnya mendukung upaya pemerintah menutup Dolly ini. Kita juga bisa memberikan masukan kepada pemerintah apabila ternyata upaya yang dilakukan pemerintah kurang efektif, kurang besrsungguh-sungguh, dan kurang istiqomah.
Atau setidaknya, kita berdoa kepada Allah agar Dolly bisa segera ditutup. Agar Allah segera menyegarakan pertolongannya, agar Allah tidak menimpakan adzab kepada kita disebabkan kelalaian kita, dan agar para penguasa bisa tunduk dan melaksanakan syariah-Nya. Faillam yastatik fabiqolbihi, wa dzalika adh’aful iiman”, jika kamu tidak mampu merubah dengan tangan dan lisan, maka rubahlah dengan hati (berdoa), dan ia adalah selemah-lemahnya iman (HR. Muslim)
Semoga kita termasuk orang-orang senantiasa menyuruh yang ma’ruf (amar ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar) dan semoga Allah menyegerakan pertolongan-Nya. Amiin.

  
*)Penulis adalah mahasiswa STAIL


Baca Selengkapnya......

Bertanyalah pada Rumput yang Bergoyang

Oleh: Irfan Fauzi*

Akhir-akhir ini, negeri kita sedang berduka. Banyak bencana datang silih berganti, yang mengakibatkan ratusan nyawa menjadi korban. Belum lagi ditambah dengan kerugian materi yang tak terhitung jumlahnya. Entah mengapa bencana itu datang bertubi-tubi dan silih berganti, seakan-akan alam  ini benci dan marah kepada kita. Sehingga “dia” pun menumpahkan amarahnya melalui bencana yang tak kunjung reda. Nampaknya alam ini mulai enggan bersahabat lagi dengan kita.




Hal ini mengingatkan kita pada sepenggal lirik lagu yang dibawakan oleh Ebit G. Ade, “mungkin alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Cobalah bertanya pada rumput yang bergoyang". Dalam artian, kita melihat dan memperhatikan keadaan alam yang ada di sekitar kita. Apa saja yang telah kita perbuat terhadapnya. Apakah kita telah memperlakukannya selayaknya seoang sahabat? Atau selama ini kita tak lebih seperti seorang perampok, yang datang hanya untuk merampas, memeras dan menguras apa yang ada padanya. Setelah itu pergi begitu saja tanpa memikirkan akibatnya.
       

Padahal, firman Allah dalam Alqur'an (Qs 2:30) menjelaskan kepada kita, bahwa kita -umat manusia- diciptakan dengan tujuan untuk menjadi khalifah di dunia ini. Dalam artian, sebagai wakil Allah untuk mengurus, mengelola serta melestarikan alam ini dengan sebaik-baiknya. Bukan malah sebaliknya, merusak dan menghancurkannya. Oleh karena itu, jika seluruh umat manusia menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin niscaya alam ini akan menunjukkan sikap yang bersahabat dan memancarkan pesona keindahan. Dia akan berjalan seiring dan sejajar dengan umat manusia.

Maka pelajaran yang dapat kita petik dari bencana yang silih berganti menimpa negeri ini, marilah kita memperbaiki hubungan kita terhadap alam. Dalam artian kita mencoba untuk menjaga dan memeliharanya dengan sebaik mungkin. Karena tidak mungkin alam ini akan rusak jika kita selalu menjaganya. Begitu pula sebaliknya. Dari itu dapat disimpulkan bahwa, apa yang terjadi di negeri kita saat ini merupakan akibat perilaku kita yang tak bersahabat dengan alam itu sendiri. Sebagaimana firman Allah dalam Alqur'an yangberbunyi:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia dan Allah menhendaki agar mereka measakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ( pada jalan yang benar)." (Qs: Ar- Rum:41). Wallahu A'lam bish-Shawab. 


*) Penulis adalah mahasiswa STAIL



Baca Selengkapnya......