Untuk mendapat takwa memang tidak mudah. Namun kalau ada upaya yang sungguh-sungguh, maka kita akan bisa meraihnya.
Hal itu disampaikan oleh ketua IMHI, Abdul Wakit, sewaktu mengisi tausiah di hadapan Pengurus Pusat IMHI di masjid Aqshol Madinah Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya pada kamis, 19 mei 2011
Takwa, katanya, merupakan sebuah kata yang memang harus diperjuangkan. Karena ia merupakan sebuah bekal kita untuk kehidupan kita di akhirat.
Rasulullah bersabda, "Ad-dunyaa, mazro'atun lil-aakhiroh" (Dunia adalah ladang untuk akhirat. Artinya, kita disuruh untuk menanam sebanyak-banyaknya pohon amal di dunia, sehingga dengan pohon-pohon tersebut kita bisa memetik buahnya dan bisa kita jadikan bekal untuk akhirat. Namun ingatlah, sebaik-baik bekal adalah takwa.
Lalu dia pun menjelaskan apa itu takwa.
Menurut Imam Ar-Roghib Al-Asfani, takwa adalah sebuah upaya dalam rangka meninggalkan suatu perkara yang dilarang dan perkara-perkara yang tidak dilarang (mubah).
Yang perlu ditekankan di sini adalah, untuk mencapai takwa tidak cukup melaksanakan perintahnya. Namun harus juga meninggalkan larangan-Nya. Hal ini penting, karena kebanyakan manusia lebih fokus dan senang mengerjakan perintah-Nya dan cenderung kurang suka meninggalkan larangan-Nya. Oleh karena itu Rasulullah Saw mewanti-wanti hal ini.
Beliau bersabda;"Tidak disebut bertakwa jika tidak meninggalkan yang dilarang. Bahkan, meninggalkan sesuatu yang tidak dilarang".
Selanjutnya dia menjelaskan bahwa kalau kita menginginkan hasil panen tanaman kita baik dan banyak, maka mestinya merawatnya dengan baik dan memberinya pupuk secara rutin. Begitu juga dengan takwa. Untuk bisa meraihnya, kita bisa memupuknya. Sehingga dengan pupuk itu takwa bisa kita raih. Setidaknya ada tiga jenis pupuk untuk menumbuhkembangkan takwa.
Pupuk yang pertama adalah roja' (mengaharap). Kita berharap, bahwasanya Allah akan menolong kita. Kita berharap, kita akan masuk surga. Kita juga berharap agar amalan-amalan kita diterima oleh Allah. Pengharapan kita hanya untuk Allah, bukan untuk yang lain.
Pupuk yang kedua adalah khouf (takut). Yang dimaksud bukan takut pada manusia, tetapi takut pada Allah. Takut berbuat dosa dan takut jika dosa kita tidak diampuni oleh Allah.
Adapun pupuk yang ketiga adalah muroqobatullah (merasa diawasi Allah). Muroqabatullah ini sangan penting. Dengannya, kit akan berhati-hati dalam bertindak. Setiap kita beraktivitas, kita akan merasa bahwasanya Allah melihat kita. Sehingga, kita pun akan aman dari musuh kita, yaitu syaitan.
Sebelum tausiah diakhiri, dia memberikan penekanan, bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Sebagaimana Allah berfirman. "Inna akromakum 'indallaahi atqookum."(Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa)
Setelah tausiah selesai, kemudian dibicarakan agenda-agenda penting terkait program IMHI. Di antara yang dibahas ialah persiapan mengikuti lomba yang diadakan DISPORA ( Dinas Pemuda dan Olahraga) Surabaya dalam rangka memperingati hari ulang taun Surabaya ke-718. Dalam perlombaan yang akan diadakan pada tanggal 23, 24, 25, dan 26 Mei 2011 di Kapas Krampung Plaza Surabaya ini, IMHI akan mengikuti 2 jenis lomba. Yaitu lomba musik religi (nasyid dan hadrah) dan pameran kelompok usaha pemuda produktif (KUUP).
Ketua IMHI, Abdul Wakit, mengharapkan kepada peserta utusan perwakilan IMHI bisa memenangi perlombaan tersebut, karena IMHI sendiri berlatar belakang pesantren.
Baca Selengkapnya......
Sabtu, 21 Mei 2011
Kamis, 19 Mei 2011
Bermodal Keunikan
Oleh : Abdul Wakit (Ketua IMHI) Jutaan makhluk yang hidup di bumi semesta ini. Dengan bebagai tekstur kulit yang indah dan bentuk yang unik membuat manusia terpikat dan terpukau dengannya. Kita stress, merasa kehilangan apabila hewan kesayangan kita mati atau bahkan ada yang sampai bunuh diri.
Astaghfirullah..........hanya orang-orang yang tak punya akal saja yang akan berani mengambil keputusan sebijak itu.Semuanya memiliki keunikan dan keindahan tersendiri Akan tetapi, makhluk yang paling unik dan indah itu adalah manusia.
Manusia adalah makhluk yang unik, makhluk yang memiliki kompleksitas yang rumit atau ada juga yang menyebutnya manusia adalah makhluk multidimensi. Allah swt berfirman dalam alqur’an yang artinya: “Sungguh, Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Qs At-Tin : 4)
Setuju atau tidak, memang itu benar adanya. Manusia adalah makhluk biologis atau fisiologis dan manusia juga makhluk psikologis. Manusia disatu sisi punya sifat individualis disisi lain manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Manusia disaat tertentu selalu berfikir rasional dan pada kesempatan yang lain manusia juga berfikir irasional. Masih banyak sebetulnya dimensi-dimensi yang melekat pada diri manusia kalau kita mau menelusurinya lebih jauh lagi, yang jelas manusia adalah mekhluk multidimensi yang tidak akan pernah ditemukan pada seluruh mahkluk yang ada di semesta alam ini.
Ketika manusia punya semua keunikan itu apa yang harus manusia perbuat? Berangkat dari pertanyaan ini maka jawabanya hanya satu yaitu berkaya. Sudahkah kita berkarya atau lebih jauh lagi, karya apa saja yang telah kita hasilkan sejak kita lahir ke semesta alam ini? kebanyakan dari jawaban anak manusia itu sangat simpel “ada dech..!” atau barangkali kalaupun ada bisa dihitung dengan jari, tak sebanding dengan modal keunikan yang dipunyai dengan hasinya. Maka meminjam kata-kata dari seorang pembisnis hal yang semacam itu dinamakan defisit. Artinya manusia dalam kerugian yang nyata.
Lalu bagaimana sikap anak manusia ketika terjadi defisit dalam hidupnya. Salah satu solusi yang paling ampuh saya kira adalah reorientasi hidup, mengenali, megingat dan me_refresh kembali apa tujuan kita lahir ke semesta alam ini dan kemana ending dari sebuah perjalanan panjang anak manusia. Kalau reorientasi belum bisa menghasilkan karya-berikutnya. Maka perlu kita tanyakan apa yang terjadi dengan kamu anak manusia.
Sungguh hanya dengan karya-karya yang kita hasilkan saja yang dapat kita jadikan bekal dalam pejalanan yang saat itu tidak ada kesempatan lagi untuk berkarya. Wahai anak manusia berkaryalah, ukir hari-harimu dengan modal keunikan yang kamu miliki. Agar tidak menyesal kemudian. Pada saatnya nanti orang sekitarmu menikmati karyanya smentara kamu hanya berdiri mematung sambil mengemut telunjukmu sendiri lantaran tak ada karya sedikitpun yang dapat kamu nikmati. Wallahu a’lam bisshawab
Baca Selengkapnya......
Setuju atau tidak, memang itu benar adanya. Manusia adalah makhluk biologis atau fisiologis dan manusia juga makhluk psikologis. Manusia disatu sisi punya sifat individualis disisi lain manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Manusia disaat tertentu selalu berfikir rasional dan pada kesempatan yang lain manusia juga berfikir irasional. Masih banyak sebetulnya dimensi-dimensi yang melekat pada diri manusia kalau kita mau menelusurinya lebih jauh lagi, yang jelas manusia adalah mekhluk multidimensi yang tidak akan pernah ditemukan pada seluruh mahkluk yang ada di semesta alam ini.
Ketika manusia punya semua keunikan itu apa yang harus manusia perbuat? Berangkat dari pertanyaan ini maka jawabanya hanya satu yaitu berkaya. Sudahkah kita berkarya atau lebih jauh lagi, karya apa saja yang telah kita hasilkan sejak kita lahir ke semesta alam ini? kebanyakan dari jawaban anak manusia itu sangat simpel “ada dech..!” atau barangkali kalaupun ada bisa dihitung dengan jari, tak sebanding dengan modal keunikan yang dipunyai dengan hasinya. Maka meminjam kata-kata dari seorang pembisnis hal yang semacam itu dinamakan defisit. Artinya manusia dalam kerugian yang nyata.
Lalu bagaimana sikap anak manusia ketika terjadi defisit dalam hidupnya. Salah satu solusi yang paling ampuh saya kira adalah reorientasi hidup, mengenali, megingat dan me_refresh kembali apa tujuan kita lahir ke semesta alam ini dan kemana ending dari sebuah perjalanan panjang anak manusia. Kalau reorientasi belum bisa menghasilkan karya-berikutnya. Maka perlu kita tanyakan apa yang terjadi dengan kamu anak manusia.
Sungguh hanya dengan karya-karya yang kita hasilkan saja yang dapat kita jadikan bekal dalam pejalanan yang saat itu tidak ada kesempatan lagi untuk berkarya. Wahai anak manusia berkaryalah, ukir hari-harimu dengan modal keunikan yang kamu miliki. Agar tidak menyesal kemudian. Pada saatnya nanti orang sekitarmu menikmati karyanya smentara kamu hanya berdiri mematung sambil mengemut telunjukmu sendiri lantaran tak ada karya sedikitpun yang dapat kamu nikmati. Wallahu a’lam bisshawab
Minggu, 15 Mei 2011
Budaya Ilmu dan Kemenangan Islam
Kalau orang-orang Islam di zaman sekarang mau menjadi pemenang, maka hendaklah menjadikan kegiatan belajar sebagai aktivitas yang membudaya. Itulah pesan yang disampaikan oleh Ustadz Cholis akbar ketika mengisi Kajian Ilmiah yang diselenggarakan oleh Depertemen Dakwah dan Pendidikan IMHI di kantor majalah Suara Hidayatullah Surabaya pada Jum’at (13/5).
Dulu, katanya, tatkala Islam terkalahkan oleh pasukan salib, Imam Gazali uzlah dan merenung bagaimana caranya agar Islam ini menang. Dia melihat, seluruh elemen mayarakat tertimpa penyakit dan sulit disembuhkan, sehingga wajar pasukan Islam dicerai beraikan oleh tentara salib. Akhirnya Imam Gazali berkesimpulan, bahwa solusi terbaik ialah memperkuat diri yang dimulai dari ilmu. Hal itu dia lakukan dengan membina masyarakat dan membangun madrasah-madrasah. Dia juga mengarang kitab Ihya’ Ulmuddin (Menghidupkan Ilmu Agama) yang kemudian menjadi kitab fenomenal di dunia Islam.
Makanya tidak mengherankan, bertahun-tahun kemudian lahirlah generasi emas yang mampu meluluh lantakkan pasukan salib. Di antara tokoh yang lahir berkat upaya yang dilakukan Imam Gazali ini adalah Shalahuddin Al-Ayyubi, tokoh pembebas Palestina. Namun, lanjut ustadz Cholis, sebenarnya yang memiliki kualitas keislaman yangb baik tidak hanya Shalahuddin Al-Ayyubi. Ada sekitar 5.000 orang yang hidup di masa itu yang memiliki kualitas sama dengan Shalahudin Al-Ayyubi.
Hal ini menunjukkan bahwa membangun budaya ilmu sangat penting untuk kejayaan Islam. Islam bisa bangkit dari keterpurukan dengan membangun tradisi ilmu terlebih dahulu.
Ustadz yang merupakan salah satu senior wartawan majalah Suara Hidayatullah ini pun menjelaskan, mengapa Gaza sampai sekarang tetap bertahan, tidak bisa dihancurkan oleh Israel. Di Gaza, katanya, budaya ilmu tercipta. Membaca dan menghafal Al-Quran menjadi kebiasaan para pemudanya. Ibadahnya pun tidak ketinggalan, termasuk sholat tahajjud.
Beliau juga memaparkan fakta, bahwa ustadz Abdullah Sa’id, selaku pendiri Hidayatullah memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya buku yang dia baca. Oleh karena itu, ustadz yang sekarang mendapat amanah sebagai Redaktur Pelaksana hidayatullah.com ini menghimbau kepada para mahasiswa yang hadir agar bisa mencontoh beliau.
Selain itu, ustadz Cholis juga memberikan triger kepada mahasiswa agar bisa menjadi penerus Islam yang bisa menjadikan Islam jaya, tidak terpuruk. Mahasiswa harus bisa melawan musuh-musuh Islam. Musuh-musuh Islam di era sekarang, katanya, memerangi Islam dengan sangat halus. Contoh kecil, ialah, Barat mulai berhasil mengahapus kata JIHAD dan I’DAD di dunia Islam. Berbicara sedikit saja tentang jihad, maka akan dianggap teroris. Padahal kunci kemenangan Islam terletak pada keduanya.
Kajian Ilmiah IMHI pada pertemun ini bertema “Budaya Ilmu di Hidayatullah (Studi Komparatif Pendiri Hidayatullah (ustadz Abdullah Sa’id ) dan Kultur Jama’ah)”. Mahasiswa yang hadir merupakan Pengurus Pusat IMHI, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIL, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) STAIL, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Dakwah STAIL, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tarbiyah STAIL. Kajian yang mengupas tema-tema seputar mahasiswa dan Hidayatullah ini diagendakan setiap bulan sekali dan bertempat di kantor majalah Suara Hidayatullah suarabaya.
Baca Selengkapnya......
Dulu, katanya, tatkala Islam terkalahkan oleh pasukan salib, Imam Gazali uzlah dan merenung bagaimana caranya agar Islam ini menang. Dia melihat, seluruh elemen mayarakat tertimpa penyakit dan sulit disembuhkan, sehingga wajar pasukan Islam dicerai beraikan oleh tentara salib. Akhirnya Imam Gazali berkesimpulan, bahwa solusi terbaik ialah memperkuat diri yang dimulai dari ilmu. Hal itu dia lakukan dengan membina masyarakat dan membangun madrasah-madrasah. Dia juga mengarang kitab Ihya’ Ulmuddin (Menghidupkan Ilmu Agama) yang kemudian menjadi kitab fenomenal di dunia Islam.
Makanya tidak mengherankan, bertahun-tahun kemudian lahirlah generasi emas yang mampu meluluh lantakkan pasukan salib. Di antara tokoh yang lahir berkat upaya yang dilakukan Imam Gazali ini adalah Shalahuddin Al-Ayyubi, tokoh pembebas Palestina. Namun, lanjut ustadz Cholis, sebenarnya yang memiliki kualitas keislaman yangb baik tidak hanya Shalahuddin Al-Ayyubi. Ada sekitar 5.000 orang yang hidup di masa itu yang memiliki kualitas sama dengan Shalahudin Al-Ayyubi.
Hal ini menunjukkan bahwa membangun budaya ilmu sangat penting untuk kejayaan Islam. Islam bisa bangkit dari keterpurukan dengan membangun tradisi ilmu terlebih dahulu.
Ustadz yang merupakan salah satu senior wartawan majalah Suara Hidayatullah ini pun menjelaskan, mengapa Gaza sampai sekarang tetap bertahan, tidak bisa dihancurkan oleh Israel. Di Gaza, katanya, budaya ilmu tercipta. Membaca dan menghafal Al-Quran menjadi kebiasaan para pemudanya. Ibadahnya pun tidak ketinggalan, termasuk sholat tahajjud.
Beliau juga memaparkan fakta, bahwa ustadz Abdullah Sa’id, selaku pendiri Hidayatullah memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya buku yang dia baca. Oleh karena itu, ustadz yang sekarang mendapat amanah sebagai Redaktur Pelaksana hidayatullah.com ini menghimbau kepada para mahasiswa yang hadir agar bisa mencontoh beliau.
Selain itu, ustadz Cholis juga memberikan triger kepada mahasiswa agar bisa menjadi penerus Islam yang bisa menjadikan Islam jaya, tidak terpuruk. Mahasiswa harus bisa melawan musuh-musuh Islam. Musuh-musuh Islam di era sekarang, katanya, memerangi Islam dengan sangat halus. Contoh kecil, ialah, Barat mulai berhasil mengahapus kata JIHAD dan I’DAD di dunia Islam. Berbicara sedikit saja tentang jihad, maka akan dianggap teroris. Padahal kunci kemenangan Islam terletak pada keduanya.
Kajian Ilmiah IMHI pada pertemun ini bertema “Budaya Ilmu di Hidayatullah (Studi Komparatif Pendiri Hidayatullah (ustadz Abdullah Sa’id ) dan Kultur Jama’ah)”. Mahasiswa yang hadir merupakan Pengurus Pusat IMHI, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIL, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) STAIL, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Dakwah STAIL, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tarbiyah STAIL. Kajian yang mengupas tema-tema seputar mahasiswa dan Hidayatullah ini diagendakan setiap bulan sekali dan bertempat di kantor majalah Suara Hidayatullah suarabaya.
Baca Selengkapnya......
Jadilah Man Of Action, bukan Man of Idea
Pada Kamis, 5 Mei 2011, Pengurus Pusat IMHI yang berlokasi di Surabaya kembali mengadakan halaqoh tausiah mingguan di Masjid Aqshol Madinah Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Halaqoh yang agendanya adalah tausiah dari salah satu dari Pengurus ini hanya diikuti oleh para Pengurus Pusat.
Adapun yang mendapat amanah pada hari itu adalah Muhammad Luqmanul Hakim. Dalam tausiahnya, Luqman menjelaskan pentingnya beramal setelah kita beriman dan berilmu.
Dalam Al-quran, katanya, kata ‘amal’ selalu bergandengan dengan kata ‘iman’. Dalam surat al-‘ashr, misalnya, ada ayat yang berbunyi, “Illalladziina aamanuu wa’amilus shoolihaati ….” (“kecuali orang-orang yang beriman beriman dan beramal shaleh….). Ini menandakan bahwa, orang yang beriman haruslah beramal, karena kalau tanpa amal, maka imannya tak akan berguna.
Itulah pentingnya amal, melaksanakan apa-apa yang kita yakini dan apa yang kita ketahui. Setelah beriman dan setelah berilmu, maka langkah selanjutnya adalah mengamalkan. Kalau tidak, ibarat pohon yang tidak berbuah. Tidak ada manfaatnya bagi kehidupan. Dalam hal ini, terdapat hadits yang mengatakan, “Al-‘ilmu bilaa ‘amalin kas syajari bilaa tsamarin”. Artinya, “Ilmu tanpa ‘amal, seperti pohon tanpa buah”.
Salah satu latar belakang berdirinya Hidayatullah, lanjutnya, adalah ada kaitannya dengan hal ini. Selama ini, Islam hanya terlihat indah dalam wacana dan teori, tapi belum mewujud dalam kehidupan nyata.
Penjelasan mengenai Islam melalui buku-buku, lewat ceramah, dalam bentuk teori sudah cukup banyak. Akan tetapi yang diperlukan mendesak ialah wujud praktiknya yang bisa disaksikan langsung di lapangan.
Ustadz Abdullah sa’aid selaku pendiri Hidayatullah pun, telah mempraktekkan konsep ini. Sampai-sampai Prof. Dr. M. Amin Rais, Mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Mantan Ketua MPR-RI, mengatakan bahwa ustadz Abdullah Sa’id adalah man of action, bukan man of idea. Maksudnya, ustadz bukanlah orang yang hanya pandai memiliki ide dan gagasan, namun juga orang yang pandai mewujudkan apa yang telah digagas. Berdirinya Pondok Pesantren Hidayatullah yang akhirnya tersebar di seluruh daerah di Indonesia, adalah salah satu buktinya.
Agenda halaqoh tausiah ini diselenggarakan untuk memperkuat barisan internal pengurus. Dengan harapan, IMHI ke depan bisa lebih baik dan lebih jaya. Adapaun halaqoh lain yang bersifat rutin ialah halaqoh muhasabah yang diadakan setiap selasa pagi, dan halaqoh quran yang diadakan setiap rabu pagi.
Baca Selengkapnya......
Adapun yang mendapat amanah pada hari itu adalah Muhammad Luqmanul Hakim. Dalam tausiahnya, Luqman menjelaskan pentingnya beramal setelah kita beriman dan berilmu.
Dalam Al-quran, katanya, kata ‘amal’ selalu bergandengan dengan kata ‘iman’. Dalam surat al-‘ashr, misalnya, ada ayat yang berbunyi, “Illalladziina aamanuu wa’amilus shoolihaati ….” (“kecuali orang-orang yang beriman beriman dan beramal shaleh….). Ini menandakan bahwa, orang yang beriman haruslah beramal, karena kalau tanpa amal, maka imannya tak akan berguna.
Itulah pentingnya amal, melaksanakan apa-apa yang kita yakini dan apa yang kita ketahui. Setelah beriman dan setelah berilmu, maka langkah selanjutnya adalah mengamalkan. Kalau tidak, ibarat pohon yang tidak berbuah. Tidak ada manfaatnya bagi kehidupan. Dalam hal ini, terdapat hadits yang mengatakan, “Al-‘ilmu bilaa ‘amalin kas syajari bilaa tsamarin”. Artinya, “Ilmu tanpa ‘amal, seperti pohon tanpa buah”.
Salah satu latar belakang berdirinya Hidayatullah, lanjutnya, adalah ada kaitannya dengan hal ini. Selama ini, Islam hanya terlihat indah dalam wacana dan teori, tapi belum mewujud dalam kehidupan nyata.
Penjelasan mengenai Islam melalui buku-buku, lewat ceramah, dalam bentuk teori sudah cukup banyak. Akan tetapi yang diperlukan mendesak ialah wujud praktiknya yang bisa disaksikan langsung di lapangan.
Ustadz Abdullah sa’aid selaku pendiri Hidayatullah pun, telah mempraktekkan konsep ini. Sampai-sampai Prof. Dr. M. Amin Rais, Mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Mantan Ketua MPR-RI, mengatakan bahwa ustadz Abdullah Sa’id adalah man of action, bukan man of idea. Maksudnya, ustadz bukanlah orang yang hanya pandai memiliki ide dan gagasan, namun juga orang yang pandai mewujudkan apa yang telah digagas. Berdirinya Pondok Pesantren Hidayatullah yang akhirnya tersebar di seluruh daerah di Indonesia, adalah salah satu buktinya.
Agenda halaqoh tausiah ini diselenggarakan untuk memperkuat barisan internal pengurus. Dengan harapan, IMHI ke depan bisa lebih baik dan lebih jaya. Adapaun halaqoh lain yang bersifat rutin ialah halaqoh muhasabah yang diadakan setiap selasa pagi, dan halaqoh quran yang diadakan setiap rabu pagi.
Baca Selengkapnya......
Sabtu, 30 April 2011
Kita Golongan Mana?
Kita hendaknya memuhasabahi diri. Apakah sudah benar keislaman kita? Jangan-jangan kita meniru perilaku orang kafir dan Munafik.
Pesan itu disampaikan oleh Irsyad, salah satu Pengurus Pusat IMHI di masjid Aqshol Madinah Pesantren Hidayatullah Surabaya pada Rabu, 27 April 2011. Hal ini dia utarakan ketika mendapat amanah mengisi tausiah kepada Pengurus Pusat IMHI yang lain.
Manusia, lanjutnya, terbagi menjadi 3 golongan. Yaitu golongan kanan, golongan kiri, dan golongan antara golongan kanan dan kiri.
Golongan kanan ialah orang-orang yang beriman. Beriman kepada Allah, Rasulullah, surga, neraka, dan hal gaib lainnya. Mereka juga mendirikan sholat dan menunaikan zakat.
Allah telah menyebutkan cirri-ciri golongan kanan ini dalam kitab-Nya surat Al-Baqoroh ayat 3:
“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka”.
Adapun golongan kiri adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Merka adalah orang-orang yang meningkari perintah-Nya dan tidak membenarkan risalah yang Rasulullah bawa. Mereka adalah orang-orang kafir, orang-orang yang memiliki cara berpikir, cara memandang, dan berperilaku menentang Allah. Mereka keadaannya seperti itu terus, walaupun mereka sudah diberi peringatan. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, Engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman”. (QS. Al-Baqoroh: 6).
Sementara untuk golongan antara kanan dan kiri alias golongan abu-abu bin gak jelas, adalah orang-orang munafik. Ketika bertemu orang beriman, mereka mengaku beriman. Namun kalau bertemu orang kafir, mereka pun mengaku kafir. Namun hakikatnya, hati mereka memang kafir. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman. Namun sebenarnya, mereka menipu diri mereka sendiri. Allah mengabarkan hal itu kepada kita dalam firman-Nya:
“Mereka menipu Allah dan dan orang-orang yang beriman. Padahal, mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari” (QS. Al-Baqoroh: 9)
Sebelum menutup tausiahnya, Irsyad pun membuat kesimpulan, bahwa kita harus berhati-hati dan sering memuhasabahi keimanan kita. Apa sudah benar kita termasuk golongan golongan kanan? Atau malah, perilaku kita mengirip orang kafir dan munafik. “Hendaknya kita sering-sering memuhasabahi sendiri”, pungkasnya.
Kegiatan yang diadakan setiap Rabu pagi ba’da subuh ini bersifat internal, yaitu hanya diikuti oleh Pengurus Pusat IMHI. Setiap pengurus wajib memberikan tausiah sesuai dengan jadwalnya masing-masing. Hal ini bertujuan, agar tercipta budaya saling mengingatkan, disamping dijadikan sebagai ajang latihan untuk berdakwah di masyarakat.
Kamis, 28 April 2011
“SUKSES” BERCERMIN PADA KERANG
Oleh Khairul umam
(Mahasiswa STAIL)
Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka beruntunglah orang tersebut, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka termasuk orang yang rugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka termasuk orang yang celaka, begitulah Sabda Nabi Muhammad SAW. Dalam salah satu haditsnya.
Percayalah…..!
Sukses, merupakan impian bagi setiap orang yang sempurna akalnya. Namun, anehnya masih banyak orang yang tidak percaya dengan potensi yang dimiliki dirinya sendiri, justru lebih percaya dan bangga dengan kemampuan orang lain. Sehingga begitu melihat orang lain sukses dan berkembang mereka minder, merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain, seakan tidak percaya bahwa Tuhan menganugrahkan akal yang dapat digunaka untuk berfikir. Padahal dalam Islam sendiri mengatakan bahwa manusia itu memiliki potensi dasar (fitrah) yang berupa Insting, Nafs, Krakterstik, Hereditas, Intuisi dan Bakat. Menurut baratpun menilai manusia itu tidak jauh berbeda dengan Islam, mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang aktif, artinya mahluk itu merupakan mahluk yang di dalam dirinya terdapat kecendrungan dan naluri untuk membentuk dirinya (LANGVELD).
Baca Selengkapnya......
(Mahasiswa STAIL)
Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka beruntunglah orang tersebut, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka termasuk orang yang rugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka termasuk orang yang celaka, begitulah Sabda Nabi Muhammad SAW. Dalam salah satu haditsnya.
Percayalah…..!
Sukses, merupakan impian bagi setiap orang yang sempurna akalnya. Namun, anehnya masih banyak orang yang tidak percaya dengan potensi yang dimiliki dirinya sendiri, justru lebih percaya dan bangga dengan kemampuan orang lain. Sehingga begitu melihat orang lain sukses dan berkembang mereka minder, merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain, seakan tidak percaya bahwa Tuhan menganugrahkan akal yang dapat digunaka untuk berfikir. Padahal dalam Islam sendiri mengatakan bahwa manusia itu memiliki potensi dasar (fitrah) yang berupa Insting, Nafs, Krakterstik, Hereditas, Intuisi dan Bakat. Menurut baratpun menilai manusia itu tidak jauh berbeda dengan Islam, mereka berpendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang aktif, artinya mahluk itu merupakan mahluk yang di dalam dirinya terdapat kecendrungan dan naluri untuk membentuk dirinya (LANGVELD).
Baca Selengkapnya......
Rabu, 27 April 2011
Terbelenggu Masa Lalu
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Ahqaaf [46]:13-14)
Setiap manusia terlahir dalam keadaan merdeka, bahkan merdeka dari kehendak ibu yang melahirkannya. Seorang ibu tidak bisa mengatur kapan bayinya lahir, siang atau malam, sekarang atau besok. Jika sang bayi hendak lahir jam satu malam, maka lahirlah jabang bayi itu pada jam tersebut, sekalipun sang ayah harus pontang-panting mencari kendaraan untuk mengantar ke rumah sakit, meskipun sang ibu lagi asyik-asyiknya tidur, sekalipun dokter dan bidan sedang terlelap tidur.
Kemerdekaan yang menjadi hak semua manusia itu sering terkikis seiring dengan perjalanan waktu. Semakin dewasa bertambah banyak penjara atau belenggu yang mengekang kebebasannya. Lebih aneh lagi, ternyata sebagian besar penjara itu dibuat oleh mereka sendiri. Penjara-penjara itu diciptakan oleh pikiran mereka sendiri.
Baca Selengkapnya......
Setiap manusia terlahir dalam keadaan merdeka, bahkan merdeka dari kehendak ibu yang melahirkannya. Seorang ibu tidak bisa mengatur kapan bayinya lahir, siang atau malam, sekarang atau besok. Jika sang bayi hendak lahir jam satu malam, maka lahirlah jabang bayi itu pada jam tersebut, sekalipun sang ayah harus pontang-panting mencari kendaraan untuk mengantar ke rumah sakit, meskipun sang ibu lagi asyik-asyiknya tidur, sekalipun dokter dan bidan sedang terlelap tidur.
Kemerdekaan yang menjadi hak semua manusia itu sering terkikis seiring dengan perjalanan waktu. Semakin dewasa bertambah banyak penjara atau belenggu yang mengekang kebebasannya. Lebih aneh lagi, ternyata sebagian besar penjara itu dibuat oleh mereka sendiri. Penjara-penjara itu diciptakan oleh pikiran mereka sendiri.
Baca Selengkapnya......
Trik Menjadi Pemimpin berkualitas
(Mahasiswa STAIL)
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menciptakan khalifah di bumi’. Mereka berkata:’Apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman:’Aku menegetahui apa yang tidak kamu ketahui’. (QS.Al-baqoroh:30)
Ayat di atas mengabarkan kepada kita, bahwa setiap manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Tidak sekedar beberapa orang saja, melainkan setiap orang. Setiap manusia adalah pemimpin. Coba kita hayati hadits berikut, “Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan ditanyakan tentang kepemimpinannya”(Al-hadits).
Oleh karena itu, betapa urgen mempelajari dunia kepemimpinan (leadership).Kalau kita tidak mengenal lebih mendalam, bisa-bisa kita tidak bisa menjadi pemimpin yang baik dan berkualitas. Lantas, bagaimana cara untuk menjadi pemimpin yang baik lagi berkualitas?
Setidaknya, ada 3 hal penting yang insyaAllah sangat bermanfaat untuk kita ketahui, agar kita bisa menjadi pemimpin yang baik dan berkualitas. Agar kita bisa melaksanakan tugas yang Allah berikan kepada kita –yaitu menjadi pemimpin- dengan sebaik-baiknya. Karena, mau tidak mau, kita akan ditanya tentang “kepemimpinan” kita.
Mengelola Waktu
Yang pertama adalah pandai mengelola waktu. Pemimpin yang baik haruslah bisa mengelola waktunya dengan baik. Tanpa penguasaan terhadap waktu, seseorang tidak bisa dikatakan pemimpin yang baik.
Islam sungguh sangat menghargai waktu. Bahkan, dalam Al-Quran Allah bersumpah dengan waktu. ‘Wal ‘ashr’. ‘Demi Waktu’, firman Allah. Ini menandakan bahwa, waktu teramat penting. Namun sayangnya, banyak manusia menyia-nyiakan dan melupakan nikmat Allah berupa waktu. Rasulullah sendiri menyampaikan hal ini dalam haditsnya, ”2 nikmat yang banyak manusia lupa ialah nikmat sehat dan nikmat sempat” (Al-hadits). Nikmat sempat itu tidak lain adalah nikmat waktu yang Allah berikan kepada kita.
Pernah suatu ketika tatkala di majlis ilmu, Imam Ghazali bertanya kepada murid-muridnya, “ Wahai murid-muridku, menurut kalian, apa yang terdekat dengan kita?” Murid-muridnya pun menjawab dengan jawaban yang beragam. Ada yang mengatakan, “Yang terdekat dengan kita adalah orang tua kita wahai syeikh”. Yang lain menjawab, “Kalau menurut saya, yang terdekat dengan kita adalah anak kita”. Dan masih banyak jawaban lain dari para muridnya. Lantas Imam Ghazali mengatakan, “Jawaban kalian benar, tapi ada yang lebih dekat dengan kita daripada itu semua, yaitu kematian. Kematian itu datang secara tiba-tiba, tanpa diundang dan tanpa diperkirakan sebelumnya. Bisa saja ia datang menjemput kita bulan depan, atau bisa juga pekan depan, atau habis majlis ini nyawa kita diambil. Jadi, ia begitu dekat dengan kita. Maka persiapkan diri kalian menghadapi kematian itu”.
Para muridnya pun mengangguk-angguk pertanda mengiyakan. Selanjutnya Imam Ghazali mengajukan pertanyaan lagi,”Sekarang menurut kalian, apa yang terjauh dengan kita?” Mendapatkan petanyaan seperti itu, kembali murid-muridnya menjawab dengan jawaban yang berbeda. Ada yang mengatakan yang terjauh adalah matahari. Ada yang mengatakan langit, bulan, dan lain-lain. Namun Imam Ghazali pun menimpali, “Kalian benar, tapi ketahuilah, sesungguhnya yang terjauh dari kita adalah waktu yang telah lewat. Walaupun kita berlari sekencang mungkin, atau menggunakan kendaraan apapun, kita tidak akan pernah sampai padanya. Karena waktu yang kita habiskan sungguh teramat jauh. Maka dari itu, gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya”.
Begitulah hakikat waktu. Sungguh sangat penting mengelolanya dengan sebaik mungkin, agar kita bisa menjadi pemimpin yang baik dan berkualitas. Namun sebenarnya, hakikat mengelola waktu adalah mengelola diri kita. Bukan kita yang mengatur waktu, karena waktu memang waktu tidak bisa diatur-atur. Caranya ialah, kita berusaha sebaik mungkin mengatur diri, agar waktu yang ada termanfaatkan dengan baik, tidak terbuang percuma.
Terkait pengelolaan waktu ini, penting kiranya kita mencontoh para pemimpin dunia. Mereka menggunakan waktu sebaik mungkin. Tak ada waktu kosong yang tersia-siakan. Bahkan, mereka sedikit sekali menghabiskan waku untuk tidur. Sebutlah contoh Rasulullah, pemimpin nomor satu di dunia, pemimpin yang menjadi teladan bagi pemimpin-pemimpin lainnya. Untuk tidur, beliau hanya butuh waktu 3 sampai 4 jam dalam sehari. Tidak banyak. Cobalah bandingkan dengan kita. Sudahkah kita mencontoh Rasulullah? Sudahkah kita tidur dalam sehari hanya 3-4 jam?
Bermanfaat bagi Orang Lain
Hal penting kedua yang seharusnya diketahui oleh kita untuk menjadi pemimpin yang baik dan berkualitas ialah, menjadikan konsep “bermanfaat bagi orang lain” sebagai prinsip hidup. Kita hidup di dunia, dalam rangka memberikan manfaat kepada orang lain. Memberi manfaat sebanyak-banyaknya.
Rasulullah bersabda, “Khoirun naas anfa’uhum linnaas”. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”.(Al-hadits).
Dari sini, kita memuhasabahi diri kita. Sudah berapa banyak manfaat yang kita berikan kepada orang lain? Atau, selama ini, kita malah lebih banyak memberikan kerugian daripada memberikan manfaat. Jangan-jangan, keberadaan kita sama dengan ketiadaan kita. Jangan-jangan, hidup kita di dunia tidak ada manfaatnya sama sekali. Pepatah arab mengatakan, “wujuuduhu ka’adaamihii”.”Keberadaannya sama dengan ketiadaannya”. Na’udzubillaahi min dzaalik. Tsumma na’udubillaahi min dzaalik.
Dengan berprinsip seperti ini, yaitu memimpin karena prinsip kemanfaatan, maka kita pun bisa mencapai predikat sebagai pemimpin yang baik dan berkualitas di mata Allah. Karena, setiap langkah kaki yang kita tapakkan, setiap kata yang keluar dari lisan, dan segala tindak-tanduk kita, digunakan untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada manusia yang lain. Khoirun naas anfa’uhum linnaas.
Inspiratif
Yang ketiga adalah, menjadi pemimpin yang inspiratif. Untuk poin yang ketiga ini, lebih masuk ke tataran aplikatif. Kalau kita mau menjadi pemimpin yang baik dan berkualitas, penting mengetahui hal ini. Setelah mengetahuinya, bisa kita praktekkan.
Seorang pemimpin bisa dikatakan baik, ketika bisa mempengaruhi orang yang dipimpinnya. Pengaruh yang menjadikan orang yang dipimpin merasa enjoy dan nyaman, sehingga mau berjuang bersama. Ketika diperintah oleh sang pemimpin, ia sadar bahwa itu adalah kebaikan. Ia akan melakukan perintah dengan senang, tidak terpaksa, dan tidak mengharap hadiah dari pemimpin. Inilah pemimpin yang inspiratif. Inilah pemimpin yang berkualitas.
Memang berat untuk menjadi pemimpin yang seperti ini. Tidak mudah. Namun tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Dalam hal ini, Rasulullah adalah contoh utama. Para sahabat ketika diperintah oleh Rasulullah, maka dengan mantap hati mereka berujar, “Sami’naa waatho’naa”. “Kami mendengar dan kami taat”. Oleh karena itulah, perlu sekali kita mencontoh beliau.
Akhirnya, semoga kita semua bisa menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang berkualitas. Pemimpin yang amanah. Pemimpin yang bisa mempersembahkan yang terbaik kepada Allah. Kita semua. Ya, kita semua. Karena setiap kita adalah pemimpin. Wallahua’lam.
Baca Selengkapnya......
Langganan:
Postingan (Atom)





